PMMALHIKMAH.ID – Bulan Rabiul Awal kembali menyapa kita. Di tahun 1448 Hijriah ini, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sudah sepatutnya bukan sekadar perayaan seremonial tahunan. Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, momen ini adalah panggilan untuk kembali menyelami samudra hikmah dari kehidupan manusia paling mulia dan me-recharge semangat perjuangan di bangku perkuliahan.
Sejarah mencatat, Muhammad SAW lahir di tengah masyarakat Jahiliyah yang kehilangan arah moral dan peradaban. Masa mudanya tidak dihabiskan untuk berfoya-foya, melainkan bekerja keras dan menjaga integritas hingga penduduk Makkah memberinya gelar Al-Amin (Yang Dapat Dipercaya).
Ketika wahyu pertama turun di Gua Hira, dimulailah perjuangan panjang meruntuhkan sistem yang zalim dan penuh kebodohan. Beliau menghadapi boikot, cacian, hingga ancaman nyawa dari kaum Quraisy, namun tidak pernah mundur selangkah pun. Dari ketabahan di Makkah hingga strategi membangun masyarakat madani di Madinah, Rasulullah membuktikan bahwa perubahan besar membutuhkan kesabaran dan tekad baja.
Aisyah r.a. pernah berkata bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an, sebuah cerminan sempurna yang keteladanannya sangat aplikatif untuk kita terapkan di masa kini.
Nilai-nilai ini terwujud kuat dalam empat pilar sifat wajib beliau, dimulai dari Siddiq (jujur) yang mengajarkan kita untuk selalu menjaga integritas tinggi dalam perkataan maupun perbuatan dengan menolak segala bentuk kebohongan. Selain itu, beliau mencontohkan sifat Amanah (dapat dipercaya), di mana kita dituntut untuk senantiasa bertanggung jawab penuh atas setiap tugas dan kepercayaan yang disematkan di pundak kita.
Tidak hanya itu, Rasulullah juga memiliki sifat Fathonah (cerdas) yang memotivasi kita untuk terus mengedepankan ilmu, literasi, dan kebijaksanaan dalam memecahkan setiap persoalan. Pada akhirnya, semua itu disempurnakan dengan sifat Tabligh (menyampaikan), sebuah dorongan agar kita tidak ragu dan berani menyuarakan kebenaran, menegakkan keadilan, serta aktif mengedukasi masyarakat di sekitar kita.
Sebagai mahasiswa yang menyandang status agent of change, kita perlu merenungkan makna Maulid 1448 H bagi perjuangan kita saat ini. Ruang kuliah, perpustakaan, organisasi, hingga ruang-ruang publik adalah medan juang nyata kita hari ini. Dari perjuangan Rasulullah, kita diajarkan tiga hal penting.
Pertama, kita harus melawan kebodohan akademik dengan menjadikan semangat wahyu pertama, Iqra’ (Bacalah), sebagai landasan utama sehingga belajar bukan lagi sekadar demi IPK, melainkan demi menguasai ilmu yang bermanfaat bagi peradaban.
Kedua, penting bagi kita untuk menjaga integritas kampus dengan menghindari plagiarisme, titip absen, atau berbagai bentuk kecurangan akademik lainnya, sekaligus membuktikan diri sebagai mahasiswa yang Al-Amin di tengah disrupsi digital.
Terakhir, kita dituntut memiliki kepekaan sosial, yakni dengan menggunakan ilmu yang didapat untuk membela masyarakat yang termarginalkan, sebagai wujud nyata meneladani empati dan kepedulian sosial Rasulullah kepada kaum mustadhafin (orang-orang yang dilemahkan).
Mari jadikan Maulid 1448 H sebagai titik tolak untuk tidak hanya memuji beliau lewat lantunan selawat, tetapi juga menghidupkan warisan perjuangannya. (*)
